Pemkab Solok Gelar Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2022.

By Pemerintah Daerah Kabupaten Solok 07 Des 2022, 00:00:00 WIB Kegiatan
Pemkab  Solok Gelar Kampanye Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2022.

(Arosuka)-Kominfo. Pemerintah Kabupaten Solok melalui  Dinas Kominfo Kabupaten Solok, laksanakan Kampanye percepatan penurunan Stunting tahun 2022, bertempat di Gedung Solok Nan Indah Arosuka, pada Rabu, (7/12/2022).

        

Baca Lainnya :

Acara yang dibuka oleh PLH Sekda Kabupaten Solok yang juga adalah Asisten I, Syharial tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Solok, Zulhendri, Sekretaris TP PKK, Retni Humaira, Kepala Dinas Kominfo, Teta Midra, dan Kepala DPPKB&P3A, Maryeti Marwazi. Narasumber utama pada acara tersebut adalah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai Narasumber, Dr. dr Satya Wydya Yenny SpKK (K) FINSDV FAADV.

Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Solok, Teta Midra mengatakan, penurunan kasus stunting sudah menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Hal tersebut sering dengan lahirnya Peraturan Presiden No. 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting.

“Pemerintah Kabupaten Solok juga menerbitkan Keputusan Bupati Solok Nomor : 050-090-2022 tentang Pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten Solok. Dua hal ini menjadi dasar dalam penguatan intervensi, pendanaan hingga evaluasi dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Solok,” terang Teta.

Sementara itu, Bupati Solok melalui Asisten I, Syahrial menyebutkan, saat ini pusat dan daerah dihadapkan oada persoalan kasus stunting pada balita. Jika tidak ditanggulangi dengan segera, maka mengancam kualitas SDM generasi penerus di masa mendatang.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) bulan Oktober tahun 2021, angka Prevalensi Stunting Kabupaten Solok adalah 40,12%. Kemudian, pada Agustus 2022 setelah dilakukan Penimbangan massal terhadap 95% Balita di Kabupaten Solok didapatkan angka Prevalensi Stunting sebesar 15,12%.

“Dari angka tersebut, ada hasil dari upaya yang telah kita lakukan yakni terjadinya penurunan angka Stunting di Kabupaten Solok. Namun pekerjaan kita belum selesai, target kita sangat jelas, kita ingin menurunkan prevalensi stunting hingga 14 persen pada tahun 2024,” sebut Syahrial.

Ia menegaskan, percepatan penurunan stunting memerlukan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait. Kolaborasi kerja berbagai pihak menjadi kunci untuk memastikan konvergensi antar program hingga ke tingkat Nagari untuk menurunkan stunting.

“Upaya penurunan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk pemerintah Kecamatan dan Nagari, akademisi, media, swasta, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra pembangunan. Semua elemen harus solid dan seirama dalam menyelamatkan masa depan anak-anak Kabupaten Solok dari stunting,” tutupnya.

Dalam kampanye penurunan stunting tersebut, pemerintah Kabupaten Solok juga menggandeng akademisi dari Universitas Andalas, Dr. Sadya Wydya Yenni.

Sementara itu Narasumber, Satya Wydya Yenny dalam paparannya menguraikan tentang pengertian Stunting, ” Stunting itu merupakan situasi gagal tumbuh akibat Kekurangan gizi Kronis terutama 1000 hari pertama kehidupan.”

Selain itu dia juga menguraikan tentang pentingnya penanganan yang pada masa 1000 hari pertama kehidupan.

Menurut Wydya Yenny, pada periode ini adalah fase pendukung proses pertumbuhan anak dengan sempurna. Kekurangan gizi pada periode emas tidak dapat perbaiki di masa kehidupan selanjutnya.

Masih menurut Wydya Yenny lagi dimulai dari fase kehamilan, kemudian fase 180 hari masa 6 bulan pertama, pada masa ini fase ini jika gizi nya tidak cukup maka akan terjadi perlambatan dalam pertumbuhan, hal itu akan membuat penurunan kecerdasan pada anak.

Selain itu Wydya Yeny juga menjelaskan dampak stunting, yaitu akan membuat IQ sang anak rendah, ini akan membuat kekebalan tubuh lemah dan berisiko terkena penyakit.

Perhatian harus lebih serius terhadap siklus stunting mulai dari proses menjadi ibu, dari mentalitas, gizi. Jika persiapan menjadi seorang ibu itu matang, maka ia juga siap menghasilkan generasi yang cemerlang. Penyebab stunting adalah kurang gizi (Malnutrisi), kedua pola asuh terutama praktek pemberian makanan, yaitu memenuhi gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, dan melakukan ANC 4kali selama kehamilan, yang selanjutnya adalah sanitasi kebersihan, Pola makan. ( Admin)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment